bugis Indonesia 1
Bahasa Bugis merupakan salah satu bahasa daerah di
Provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki jumlah penutur besar
dan sampai sekarang masih digunakan sebagai alat komunikasi
oleh warga Bugis. Bahasa Bugis berfungsi sebagai lambang
identitas dan kebanggaan bagi warga Bugis. Bahasa Bugis
yang merupakan salah satu bahasa mayor di Provinsi Sulawesi
Selatan berandil besar dalam memperkaya khazanah kosakata
bahasa Indonesia.
Bahasa Bugis terdiri atas 27 dialek. Dialek-dialek
tersebut meliputi: (1) dialek Bone, (2) dialek Pangkep, (3) dialek
Makassar, (4) dialek Pare-Pare, (5) dialek Wajo, (6) dialek
Sidenreng Rappang, (7) dialek Soppeng, (8) dialek Sinjai, (9)
dialek Pinrang, (10) dialek Malimpung, (11) dialek Dentong,
(12) dialek Pattinjo, (13) dialek Kaluppang, (14) dialek Maiwa,
(15) dialek Dialek Maroangin, (16) dialek Wani, (17) dialek
Bugis Kayowa, (18) dialek Buol Pamoyagon (Bugis
Pomayagon), (19) dialek Buol Bokat (Bugis Bokat),(20) dialek
Jambi, (21) dialek Kalimantan Selatan, (22) dialek Lampung,
(23) dialek Sulawesi Tenggara, (24) dialek Bali, (25) dialek
Sulawesi Tengah, (26) dialek Riau, dan (27) dialek Kalimantan
Timur. (Bugis - Peta Bahasa (kemdikbud.go.id).
Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan bertugas untuk
melakukan Pembinaan, Pengembangan, dan Pelindungan
Penggunaan Bahasa dan Sastra di Provinsi Sulawesi Selatan dan
Provinsi Sulawesi Barat. Dalam pelaksanaan tugasnya, Balai
Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan menyelenggarakan fungsi
sesuai dengan sasaran strategis yang telah ditetapkan. Salah
satunya adalah melestarikan bahasa daerah melalui kodifikasi
bahasa. Kodifikasi bahasa sangat diperlukan di dalam upaya
pelestarian budaya bangsa. Upaya ini dapat ditempuh, salah
satunya, melalui bidang perkamusan, yakni dengan
v
menghasilkan produk kamus. Kamus yang merupakan hasil
kodifikasi bahasa menjadi salah satu sumber rujukan yang andal
dalam memahami makna kata dalam bahasa tertentu.
Dengan mempertimbangkan hal di atas, Balai Bahasa
Provinsi Sulawesi Selatan menghadirkan produk kamus sebagai
rujukan yang berisi lema dan sublema bahasa Bugis. Kamus
pertama yang dimiliki oleh Balai Bahasa Provinsi Sulawesi
Selatan adalah Kamus Bahasa Bugis—Indonesia yang disusun
oleh Prof. M. Ide Said DM pada 1978 melalui proyek
Pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah. Kamus
Bahasa Bugis—Indonesia sebagai keluaran dari Penataran
Leksikografi oleh Lembaga Bahasa Nasional yang dilaksanakan
pada 9 Juni s.d. 4 Agustus 1974 di Tugu, Kota Bogor, Provinsi
Jawa Barat. Kamus Bahasa Bugis—Indonesia yang diterbitkan
ini sangat sederhana karena hanya berisi beberapa lema dan
sublema dengan dialek Bugis yang beragam. Meskipun
demikian, terbitnya kamus pertama ini dapat memperkaya
khazanah kepustakaan, khususnya dalam bidang perkamusan dan
bermanfaat untuk pemerkayaan kosakata bahasa Indonesia pada
masa mendatang.
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang
berpengaruh besar dalam segala hal, termasuk perkamusan, Balai
Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan terus melakukan
pengembangan kamus bahasa Bugis melalui pemutakhiran
Kamus Bahasa Bugis—Indonesia. Pemutakhiran Kamus Bahasa
Bugis—Indonesia diprogramkan pada 2012 dengan nama
kegiatan ―Pemutakhiran Kamus Dwi Bahasa Bugis—Indonesia‖.
Di dalam kamus ini, ada penambahan lema dan sublema
yang bersumber dari informan yang berasal dari penutur jati
bahasa Bugis dan buku Aku Bangga Berbahasa Bugis yang
disusun oleh M. Arifuddin Nur.
Pemutakhiran kamus yang telah dilakukan pada 2012
terbatas pada pelaporanan dan penyajiannya masih belum
lengkap untuk dijadikan sebagai referensi kamus cetak. Selain
itu, kebutuhan pengguna kamus yang semakin meningkat
menjadi alasan untuk memutakhirkan kembali Kamus Bahasa
Bugis—Indonesia sampai pada tahap penerbitan. Oleh sebab itu,
Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan memprogramkan
pemutakhiran Kamus Bahasa Bugis—Indonesia pada 2020—
2021. Pemutakhiran kamus yang dilakukan selama dua tahun ini
dibagi berdasarkan urutan abjad, yakni pada 2020, dilakukan
pemutakhiran Kamus Bahasa Bugis—Indonesia untuk abjad A—
K dan pada 2021 dilakukan pemutakhiran Kamus Bahasa
Bugis—Indonesia untuk abjad L—W.
Pemutkahiran ini dilakukan dengan menambahkan lema,
sublema, lafal, kelas kata, makna, dan contoh. Penambahan lema
dan sublema bersumber dari buku Aku Bangga Berbahasa Bugis,
hasil inventarisasi kosakata pada 2017—2019, cerita rakyat, dan
berdasarkan pengetahuan tim pemutakhir yang merupakan
penutur jati bahasa Bugis.
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan oleh tim
pemutakhiran Kamus Bahasa Bugis—Indonesia, sebelum
dimutakhirkan data kamus berjumlah 9430 lema dan sublema. Di
dadalmnya, ada penambahan 1660 lema dan sublema. Jadi,
total data kamus yang telah dimutakhirkan pada 2020—2021
sebanyak 11090 lema dan sublema. Jumlah tersebut terdiri atas
5251 lema dan sublema pada pemutakhiran kamus 2020 dan
5839 lema dan sublema pada pemutakhiran kamus 2021. Selain
penambahan, dilakukan pula pengurangan beberapa lema dan
sublema karena penulisan yang sama atau ganda.
Dalam pelaksanaannya, penyusunan kamus hendaknya
diawali dengan penentuan jenis kamus, tipe kamus, dan sasaran.
Hal ini dilakukan agar mempermudah tahap pengumpulan data
lema dan sublema serta mempertimbangkan kebermanfaatan
kamus nantinya. Kamus Bahasa Bugis—Indonesia Edisi Revisi
ini adalah kamus yang dimutakhirkan dari kamus yang pernah
ada sebelumnya. Jenis kamus ini adalah kamus dwibahasa yang
berisi padanan kata dari bahasa sumber (bahasa Bugis) ke dalam
bahasa sasaran (bahasa Indonesia). Pada terbitan sebelumnya,
tidak dijelaskan tipe dan sasaran kamus yang dimaksud. Oleh
sebab itu, tim pemutakhir berusaha untuk mendeteksi tipe kamus
dengan melihat lema dan sublema yang telah disusun
sebelumnya. Hasil pendeteksian tim pemutakhir Kamus Bahasa
Bugis—Indonesia menyimpulkan bahwa kamus yang
dimutakhirkan ini merupakan kamus umum yang terdiri atas
gabungan beberapa dialek bahasa Bugis. Kamus ini termasuk
kamus dwibahasa yang bertipe reseptif atau pasif. Sasaran
pengguna kamusnya adalah penutur umum yang berbahasa
Indonesia. Mereka akan dimudahkan untuk mencari makna suatu
kata agar dapat memahami (suatu teks) atau menerjemahkan kata
tersebut ke dalam bahasa sasaran.
Teknik pengumpulan data Kamus Bahasa Bugis—
Indonesia Edisi Revisi ini dilakukan melalui studi pustaka.
Sumber pustakanya meliputi cerita rakyat, buku Aku Bangga
Berbahasa Bugis, laporan inventarisasi kosakata bahasa Bugis
pada 2017—2019.
Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan merupakan unit
pelaksana teknis (UPT) yang berada di bawah Badan
Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Dahulu, UPT ini
bernama Balai Penelitian Bahasa Ujung Pandang. UPT ini
dahulu memiliki tiga wilayah kerja, yakni Sulawesi Selatan,
Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara. Sejak pertama kali
didirikan pada 1972, Balai Penelitian Bahasa Ujung Pandang
telah memfokuskan kegiatan perkamusan (lexicography) melalui
penyusunan kamus bahasa daerah. Setelah berganti nama
menjadi Balai Bahasa Sulawesi Selatan, UPT ini hanya memiliki
dua wilayah kerja, yakni Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.
Dahulu, UPT ini berkantor di Benteng Rotterdam Makassar,
tepatnya di Jalan Ujung Pandang, Bulo Gading, Kecamatan
Ujung Pandang, Kota Makassar. Setelah berpindah ke Jalan
Talasalapang, Jalan Sultan Alauddin Km 7, Kelurahan Mangasa,
Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, banyak arsip balai yang
tidak terselamatkan, termasuk arsip kegiatan leksikografi.
Seiring berjalannya waktu, para pekamus di UPT ini
belum cakap juga dalam mengarsipkan kamus dan data kosakata
bahasa daerah yang sudah dijaring. Pada akhirnya, pegawai
terdahulu yang berkutat dengan perkamusan sudah banyak yang
purnabakti, bahkan meninggal dunia. Setelah berganti nama
menjadi Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, sampai
sekarang, tidak banyak arsip leksikografi yang dapat digali
kembali informasinya, termasuk untuk memetakan kembali
urutan program pengembangan perkamusan. Sejumlah pegawai
senior yang dahulu sempat bergabung dengan tim perkamusan,
A. Bahasa Bugis dan Dialek-Dialeknya
Bahasa Bugis merupakan bahasa daerah yang paling
besar jumlah penuturnya di Sulawesi Selatan, yaitu lebih dari
2.500.000 jiwa. Wilayah pemakaiannya meliputi seluruh daratan
sebelah utara wilayah kelompok bahasa Makassar, yang dimulai
dari Labakkang, Camba, Tanete, sampai ke muara Sungai
Saddan. Sebelah timur berbatasan dengan bendungan Benteng
dan sebelah selatan sampai ke Kecamatan Maiwa, sebelah timur
laut sampai ke Larompong, bagian selatan Kabupaten Luwu.
Sebelah utara meliputi sepanjang pesisir Teluk Bone sampai ke
Palopo, bagian selatan Masamba, dan bagian pesisir Kecamatan
Bone-Bone, Kabupaten Luwu, dan pesisir Polewali sampai
Kecamatan Campalagian di Kabupaten Polewali-Mamasa (Peta
Bahasa Sulawesi Selatan, 1974:14).
Secara geografis, daerah Bugis terletak di semenanjung
barat daya Sulawesi, yang dalam pengertian menyeluruh
meliputi daerah Kabupaten Luwu, Wajo, Soppeng, Bone, Sinjai,
Bulukumba, (kecuali Kajang dan Bira), sebagian Maros dan
Pangkep, Barru, Pare-Pare, Pinrang, dan Pangkajenne Sidenreng.
Selain itu, sejak beberapa abad yang lalu orang Bugis telah
banyak bermukim di berbagai daerah yang tersebar di Kepulauan
Nusantara. Daerah pemukiman orang Bugis di luar Sulawesi,
antara lain pesisir timur Kalimantan yang berpusat di Samarinda,
pesisir barat Kalimantan, yaitu di sekitar Sungai Kakap, Sambas,
dan Pontianak, di Kepulauan Batan, Ende di Flores, dan pulau-
pulau di sebelah timur Pulau Lombok. Sejak permulaan abad ke-
20, orang Bugis telah banyak pula yang bermukim di pesisir
timur Sumatra, yakni di Indragiri, Riau, dan Jambi (Chairan,
1970:9). Dengan demikian, tidak mengherankan kalau varian
dialek ada dalam bahasa Bugis, suatu bahasa yang dipakai
oleh banyak orang dan menempati daerah yang cukup luas
seperti telah diuraikan di atas. Timothy dan Barbara Friberg
dalam majalah Lontara No. 28 Tahun XXIV, 1985 melaporkan
hasil penelitiannya yang berjudul ‘‘Geografi Dialek Bahasa
Bugis‖. Dari hasil penelitian itu diketahui bahwa garis batas
suatu dialek tidak selalu identik dengan batas daerah administrasi
pemerintahan. Dialek Sidrap, misalnya, meliputi daerah
Kabupaten Pangkajene Sidenreng, Kabupaten Pare-Pare, serta
Kabupaten Pinrang bagian selatan dan utara; sedangkan dialek
Sawitto hanya menempati sebagian daerah di Kabupaten
Pinrang.
Studi tentang dialek bahasa Bugis telah dilakukan oleh
berbagai pihak, antara lain oleh Pelenkahu et al yang
menghasilkan Peta Bahasa Sulawesi Selatan (1974), dan oleh
Timothy dan Barbara Friberg yang menghasilkan ‘‘Geografi
Dialek Bahasa Bugis‖. Hasil kedua penelitian itu, khususnya
mengenai dialek Bugis, disajikan di bawah ini sebagai bahan
perbandingan.
xiv
1. Peta Bahasa Sulawesi Selatan 2. Geografi Dialek
Bahasa Bugis
a. Luwu a. Luwu
b. Wajo b. Wajo
c. Palakka c. Bone
d. Ennak d. Sinjai
e. Soppeng e. Soppeng
f. Sidenreng f. Sidrap
g. Parepare g. ---
h. Sawitto h. Sawitto
i. Tallampanuae (Campalagian) i. ----
j. Ugi Rawa j.Pasangkayu
k. --- k. Barru
l. --- l. Pangkep
m. --- m. Camba
Kedua hasil penelitian tersebut memperlihatkan
perbedaan. Dalam Peta Bahasa Sulawesi Selatan ada
sepuluh dialek Bugis, sedangkan dalam ‘‘Geografi Dialek
Bahasa Bugis‖ ada sebelas dialek. Selain itu, ada juga
antara dialek Pare-Pare ‗dan dialek Campalagian. Timothy dan
Friberg tidak setuju dengan adanya dialek Pare-Pare, bahkan
mereka tidak memasukkannya sebagai salah satu subdialek dari
23 subdialek Bugis yang dikemukakannya. Subdialek bahasa
Bugis tersebut meliputi: (1) Pinrang Utara, (2) Sawitto, (3)
Alitta, (4) Sidrap, (5) Nepo, (6) Soppeng Riaja, (7) Tampo, (8)
Tanete, (9) Pangkep, (10) Camba, (11) Soppeng, (12) Kessi, (13)
Wajo, (14) Bua Ponrang, (15) Wara, (16) Malangke-Ussu, (17)
Palakka-Cenrana, (18) Dua Boccoe, (19) Mare, (20) Palattae,
(21) Sinjai, (22) Bulukumba, an (23) Pasangkayu. Menurut
Timothy, dialek Tallumpanuae (Campalagian) di Polmas masih
berkaitan dengan dialek-dialek Bugis yang lain, tetapi dianggap
sebagai satu bahasa tersendiri. Alasannya ialah bahwa bahasa
Campalagian mempunya 55% kata yang sama dengan bahasa
Bugis Palakkad an 62% sama dengan bahasa Pangkajene,
Kabupaten Sidrap, salah satu dialek Bugis terdekat. Selanjutnya,
Timothy menjelaskan bahwa orang Campalagian mengakui
bahwa lebih mengerti bahasa Bugis daripada bahasa Mandar,
tetapi sebaliknya, bahasa Campalagian tidak dimengerti, baik
oleh penutur bahasa Mandar maupun penutur bahasa Bugis.
Pendapat Timothy tersebut sejalan dengan pendapat Grimes dan
Grimes yang menyatakan bahwa bahasa Campalagian
(Tallumpanuae) adalah bahasa tersendiri dari famili Bugis.
B. Aksara Bugis
Aksara Bugis, lazim disebut huruf Lontara, terdiri atas
23 huruf dan pengucapannya berakhir dengan bunyi /a/. Huruf
Lontara tergolong tulisan silabik (suku kata) dan untuk menandai
vokalnya diperlukan tanda-tanda tertentu. Cara menuliskan huruf
Lontara ialah dari kiri ke kanan seperti di bawah ini.
C. Ejaan
Ejaan ialah keseluruhan aturan yang menggambarkan
lambang bunyi ujaran dan hubungan antarlambang itu
(pemisahan atau penggabungannya) dalam satu bahasa. Secara
xvi
teknis, yang dimaksud dengan ejaan ialah pemakaian huruf,
penulisan huruf, penulisan kata, dan pemakaian tanda baca.
Ejaan bahasa Bugis dengan huruf Latin untuk pertama kalinya
disusun berdasarkan hasil Lokakarya Pembakuan Ejaan Latin
Bahasa-Bahasa Daerah di Sulawesi Selatan (25—27 Agustus
1975 di Ujung Pandang). Ejaan bahasa Bugis disusun oleh tim
yang terdiri atas:
Ketua : Drs. Fachruddin A.E.
Notulis : Dra. Banri, Z.
Pemrasaran : Drs. Tamin Chairan
Dr. Syahruddin Kaseng
Anggota : Dr. Mattulada
H. La Side
Drs. H.M. Ide Said D.M.
Drs. Abu Haraid
Dra. Rasdiana P.
Hasil Lokakarya 1975 di Ujung Pandang) yang berjudul
Pedoman Ejaan Bahasa-Bahasa Daerah di Sulawesi Selatan
telah membuka cakrawala baru dalam sistem penulisan bahasa
Bugis dengan huruf Latin. Walaupun pedoman ejaan bahasa
Bugis itu belum luas penyebarannya di warga , usaha
penerapannya dalam penulisan naskah bahasa Bugis telah
dilaksanakan sebagaimana mestinya. Saran-saran
penyempurnaan diberikan oleh berbagai pihak, terutama oleh
para peneliti bahasa daerah di Sulawesi Selatan, yang selama ini
banyak menggunakan ejaan bahasa daerah dengan huruf Latin
dalam penyusunan naskah laporan penelitian.
Untuk memenuhi keperluan warga , Balai Penelitian Bahasa
di Ujung Pandang meminta bantuan tenaga dari wakil kelima
subetnis Bugis, Makassar, Mandar, Toraja, dan Massenrempulu
untuk bersama-sama mengadakan penyempurnaan pedoman
ejaan bahasa daerah di Sulawesi Selatan. Berkat bantuan tenaga
dari Universitas Hasanuddin, IKIP Ujung, dan beberapa ahli
xvii
bahasa di luar lembaga perguruan tinggi itu, pada 1984
tersusunlah naskah Pedoman Ejaan Bahasa-Bahasa Daerah di
Sulawesi Selatan yang Disempurnakan. Penyusunan pedoman
ejaan bahasa Bugis dipercayakan kepada Drs. Tamin Chairan
dan Drs. Adnan Usmar.
Dengan bantuan Proyek Pengembangan Bahasa dan Sastra
Daerah, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun anggaran
1985/1986 disusunlah Pedoman Ejaan Bahasa Bugis oleh satu
tim yang terdiri atas
Ketua : Drs. Zainuddin Hakim
Anggota : Drs. Tamin Chairan
Drs. Adnan Usmar
Drs. Mahmud
Konsultan : Drs. H. Ambo Gani
Berikut adalah perbedaan dalam pedoman ejaan bahasa Bugis
antara versi 1975, 1984, dan 1986.
2. Konsonan
Berikut adalah aturan penulisan huruf ny dan ng yang
melambangkan bunyi panjang (berurutan).
Ejaan 1975 Ejaan 1984 Ejaan 1986
annyarang
tennga
annyarang
tennga
anynyarang
tengnga
3. Pola Persukuan
Berikut adalah pola persukuan dalam ejaan bahasa Bugis
Ejaan 1975 Ejaan 1984 Ejaan 1986
V
KV
VK
KVK
-
V
KV
VK
KVK
-
V
KV
VK
KVK
KKV
xix
4. Kata Ganti
Berikut adalah aturan penulisan kata ganti tunjuk, seperti e, we,
dan ero.
Ejaan 1975 Ejaan 1984 Ejaan 1986
bola e (dipisah)
bola ewe
bola ero
bolae (digabung)
bolaewe
bolaero
bolae (digabung)
bolaewe
bolaero
Sementara itu, di bawah ini adalah aturan penulisan kata ganti
orang I dan kata ganti tunjuk e, we, dan sebagainya.
Ejaan 1975 Ejaan 1984 Ejaan 1986
menrek i
alek e
bembek ewe
menrek-i
alek-e
bembek-ewe
menrek-i
alek-e
bembek-ewe
Catatan:
Karena pedoman ejaan tersebut merupakan produk lama, tentu
ada kekurangan yang perlu disempurnakan. Akan tetapi,
sampai 2022 ini, Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan masih
merujuk pada hasil lokakarya tersebut karena masih belum ada
pedoman ejaan bahasa Bugis yang termutakhir.
II. Informasi dalam Kamus
Fonem pada bahasa Bugis meliputi dua jenis. Pertama, fonem
segmental yang terdiri atas fonem konsonan sebanyak 19 buah
dan fonem vokal sebanyak 5 buah. Berikut uraiannya.
A. Abjad
1. Susunan abjad yang digunakan dalam pemutakhiran kamus
ini meliputi a, b, c, d, e, g, h, i, j, k, l, m, n, o, p, r, s, t, u, w, y.
2. Adapun fonem konsonan dan fonem vokal dalam bahasa
Bugis adalah
xx
Konsonan pada Bahasa Bugis
Fonem Huruf Contoh Pemakaian pada 3 Posisi
Awal Tengah Akhir
/p/ P poppang
‗paha‘
sappa ‗cari‘ -
/b/ B bangkung
‗parang‘
kombong
‗mengembang‘
-
/t/ T tédong
‗kerbau‘
sitta ‗cepat‘ -
/d/ D dallé ‗rezeki‘ ceddi ‗satu‘ -
/c/ C cawa
‗tertawa‘
racak ‗cincang‘ -
/j/ J jokka ‗jalan‘ kojo ‗kurus‘ -
/k/ K kollang
‗kolam‘
sokko ‗nasi ketan‘ -
/g/ G golla ‗gula‘ sigé’ ‗coba‘ -
/d/ D sikku ‗sikut‘ bessi ‗besi‘ -
/h/ H hadéré ‗hadir‘ bahaya ‘bahaya’ -
/?/ ‗ - - sékké
‗pelit‘
/m/ M manré
‗makan‘
sammeng ‗suara‘ -
/n/ N nangé
‗berenang‘
bennang ‗benang‘ -
/n/ Ny nyameng
‗enak‘
kenynyé ‗anyir‘ -
/Å‹/ Ng ngoa
‗serakah‘
songko’ ‗songkok‘ kollang
‗kolam‘
/r/ R rukka ‗ribut‘ sara’ ‗hela‘ -
/l/ L lokka ‗pergi‘ kelli ‗teriak‘ -
/w/ W waju ‗baju‘ sowong
‗mengembang‘
-
/y/ Y yasing ‗yasin‘ koyyé ‗di sini‘ -
xxi
Dari tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa
a. Fonem /n/ dan /Å‹/ masing-masing dinyatakan dengan huruf
[ny] dan [ng]. Misalnya:
/no no/ nyellé’ ‗perhatian‘
/nallu?/ nyameng ‗enak‘
/Å‹oa/ ngoa ‗tamak‘
/baÅ‹ka/ rangka ‗mengangkang‘
b. Dalam bahasa Bugis, semua fonem konsonan dapat
menduduki posisi awal dan tengah kata, kecuali fonem /Å‹/
yang hanya dapat berada pada posisi akhir.
Vokal pada Bahasa Bugis
Fonem Huruf Contoh Pemakaian pada 3 Posisi
Awal Tengah Akhir
/a/ A arung
‗bangsawan‘
manré
‗makan‘
sulara
‗celana‘
/i/ I idik ‗kamu‘ salima
‗bambu‘
seddi ‗satu‘
/u/ U utu ‗kutu‘ bungko
‗bungsu‘
lisu
‗pulang‘
/é/ E énré ‗naik‘ rédé
‗mendidih‘
sanré
‗sadar‘
/o/ O obbi ‗panggil‘ soddang
‗dorong‘
sokko ‗nasi
ketan‘
/ê/ E êsso ‗siang‘ kêlle’ ‗layu‘ sakkê
‗lengkap‘
Dari tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa
a. Vokal yang dipanjangkan/ditebalkan bunyinya hanya dapat
menduduki posisi akhir.
Misalnya:
/utu:/ dituliskan utu ‗tindis‘
/utu/ dituliskan utu ‗kutu‘
xxii
/palu:/ dituliskan palu ‗kacau‘
/palu/ dituliskan palu ‗palu‘
/sappa:/ dituliskan sappa ‗bujur sangkar‘
/sappa/ dituliskan sappa ‗mencari‘
b. Perubahan bunyi vokal pada sandi dalam dituliskan menurut
ucapannya. Misalnya:
siita dituliskan sita
riita dituliskan rita
naala dituliskan nala
c. Pola persukuan dalam bahasa Bugis mencakup
V a-ta ‗budak‘
KV sa-ro ‗dukun‘
VK in-dok ‗ibu‘
KVK tan-ré ‗tinggi‘
Catatan: V + vokal K + konsonan
B. Penulisan Kata
1. Kata yang berupa lema dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya:
waju cellak napaké ‗dia menggunakan baju warna merah‘
engka balé tapa uelli ‗ada ikan asap yang saya beli‘
mémpé i ara ‗dia memanjat pohon jati‘
2. Imbuhan (awalan, sisipan, dan akhiran) ditulis serangkai
dengan lema dasar dengan memperhatikan perubahan bunyi
akibat proses sandi dan asimilasi.
Misalnya:
mattaneng ‗menanam‘
majak sipak ‗sifat buruk‘
tappikku ‗badikku‘
ripancaji ‗dijadikan‘
sieddempereng ‗jarak dekat‘
xxiii
3. Bentuk perulangan ditulis dengan lengkap dan diantarai
dengan tanda hubung (…-…).
Misalnya:
reppe’-reppe’ ‗bergoyang berlebihan‘
buli-buli ‗botol kecil‘
tenréng-ténreng ‗terantuk-antuk‘
4. Gabungan kata yang disebut kata majemuk, unsur-unsurnya
ditulis terpisah.
Misalnya:
sokko pipi ‗nasi ketan yang dipipihkan‘
lasuna cella ‗bawang merah‘
bola tanré ‗rumah kayu‘
5. Kata ganti orang, seperti u, ku, mu, na, ta, ki, kik, keng, ko,
nik, kak, wak, dan klitika lainnya ditulis serangkai dengan
kata yang mendahului atau mengikutinya.
Misalnya:
ualani iyaé doié ‗saya ambil saja uang ini‘
kunasuni palé iyaé bale bontié ‗saya masak saja ikan balanak ini‘
ajak mutunui iyatu kantongngé! ‗jangan kamu bakar kantongan itu!‘
purani tawaja inrenna ‗Anda sudah membayar utangnya‘
lokkakik matu ri gau é? ‗apakah nanti kamu ke pesta?‘
Catatan: akhiran –i dan kata ganti –i ditulis serangkai dengan
kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
sangkii iyatu auré! ‗potonglah rumput itu!‘
alai iyaro balo’ e! ‗kamu ambil balok itu!‘
témba’i dongi ‗dia menembak burung‘
kata depan ri ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya
untuk membedakannya dengan awalan ri-.
Misalnya:
xxiv
maéloka laao ri pasaé ‗saya akan pergi ke pasar‘
ajak mulo’nakkélori ana’mmu! ‗jangan kamu mau diperintah anakmu!‘
6. Kata sandang, seperti la, wé, i, puang, lawé, é, wé, éwé ditulis
terpisah.
Misalnya:
la tenritatta asenna
we Cudai asenna makkunrai éro
laoni massikola i Sitti
Puang Sanna paddénganna
Catatan:
Kata sandang yang dipakai sebagai nama diri ditulis serangkai
dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya: arasoé, matinroé, dsb.
Bunyi e pada kata sandang menggunakan bunyi e taling yg
disimbolkan dengan tanda diakritik di atasnya é.
Misalnya: ember /émbér/, esai /ésai/, survei /survéi/
7. Kata ganti tunjuk, seperti ro, iaro, tu, iatu, kua, kuaro (koro)
ko, kuatu (kotu) ditulis terpisah.
Misalnya:
aganaro iya’ uponcingi matu’
alangakka iaro botolo’ é
iamitu natiwi dénré
koroi pale majjama anritta’
poncingakka’ passioé kotu
Catatan: Gabungan dua kata tunjuk atau lebih dengan kata
sandang yang berfungsi sebagai kata tunjuk ditulis serangkai.
Misalnya:
ero, ewéro, wéro, iaé, iaéwé’, iaro, iawéro, koe, koewé, iaétu,
iaéwétu, koétu, koéwétu, éwétu, étu.
Misalnya:
maéga asénna paggalung éro
xxv
salo éwéro matebbe’ buajana
iaé asu é temmaka sekkanna
iatu riaseng aju cenning
8. Kata penegas (partikel), seperti ga, na, no, ni, sa, si, to, ha,
mua, jék, dsb ditulis serangkai dengan kata yang
mendahuluinya.
Misalnya:
engkaga pakkullémmu?
siagana ittana
lokkano mallei anrimmu
idi’tosi diakkatenning adatta
9. Kata serapan, baik yang berasal dari bahasa asing maupun
bahasa daerah, disesuaikan dengan kaidah yang berlaku
dalam bahasa Bugis.
Misalnya:
hotélé → ‘hotel‘
botolo → ‘botol‘
baléggé → ‘balig‘
harang → ‘haram‘
ahéra’ →
‘akhirat‘
III. Penyajian Lema
Susunan dan urutan lema dan sublema dalam kamus ini disajikan
dengan ketentuan berikut.
1. Lema
Lema atau lema pokok meliputi:
a. kata dasar;
b. gabungan kata; dan
c. perulangan penuh.
2. Sublema
xxvi
Sublema meliputi:
a. kata turunan;
b. gabungan kata (kata majemuk);
c. perulangan berimbuhan; dan
d. peribahasa dan ungkapan (idiom).
IV. Urutan Susunan Lema
Lema disusun berdasarkan abjad. Sementara itu, urutan lema dan
sublema disusun berdasarkan pola berikut.
a. lema dasar
b. kata turunan
c. gabungan kata
d. bentuk pengulangan
Lema atau sublema yang memiliki padanan dalam bahasa
Indonesia dituliskan sebagai definisinya. Apabila tidak ada
padanannya, dituliskan definisi seperlunya.
Penjelasan atas peribahasa dan ungkapan (idiom) diberikan
sesingkat mungkin.
Untuk memperjelas lema atau sublema, dapat diberikan contoh
penggunaan kalimat dalam bahasa Bugis yang diserta dengan
terjemahannya dalam bahasa Indonesia.
V. Ejaan
a. Tanda Hubung Satu (-)
Tanda hubung satu (-) digunakan dalam bentuk perulangan kata.
Contoh:
anre-kanré ‗makanan‘
caképpang-képpang ‗jalan pincang‘
marica’-rica’ ‗agak basah‘
b. Tanda Hubung Ganda (--)
Tanda hubung ganda (--) digunakan untuk menggantikan lema
pokok yang berupa kata dasar pada penggunaan contoh kalimat
dalam bahasa Bugis.
xxvii
Contoh:
calak kunci: --i tange’ é!, kuncilah pintu itu!
c. Tilde (~)
Tanda tilde (~) digunakan untuk menggantikan sublema yang
berupa kata turunan pada penggunaan contoh kalimat dalam
bahasa Bugis.
Contoh:
gorik gores;
maggorik menggores: ajak mu ~ ri renringé!, jangan menggores
di dinding!
paggorik penggores: ellingakka’ ~ ko pasaé!, belikan saya
penggores di pasar!
d. Tanda Koma (,)
1) Tanda koma (,) digunakan sebagai penana lema yang
dijelaskan melalui bentuk turunan
Contoh:
nasu, mannasu memasak: purani – daékku: kakakku sudah
selesai memasak
2) Tanda koma (,) digunakan sebagai penanda batas
contoh penggunaan kalimat dalam bahasa Bugis
dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.
Contoh:
waju baju: marica‘i --na pura masessa‘, bajunya basah karena
habis mencuci
e. Tanda Titik Koma (;)
1) Tanda titik koma (;) digunakan untuk memisahkan
pilihan makna yang bermakna sama atau sinonimi pada
deskripsi makna.
2) Tanda titik koma (;) digunakan sebagai penanda akhir
uraian lema yang belum merupakan uraian lema pada
derivasi terakhir.
xxviii
3) Tanda titik koma (;) digunakan sebagai penanda akhir
deskripsi makna polisemi.
f. Tanda Titik Dua (:)
Tanda titik dua (:) digunakan sebagai penanda contoh penjelas
makna lema.
g. Tanda Kurung (…)
1) Tanda kurung (…) dipakai sebagai penanda keterangan
penjelas.
2) Tanda kurung (…) dipakai sebagai penanda bunyi
pelancar.
h. Tanda Superskrip (…
1
, …
2
, …
3
, dst)
Tanda Superskrip (…
1
, …
2
, …
3
, dst) digunakan sebagai penanda
bentuk homonym yang homograf dan homofon.
Contoh:
kattang1 n ketam
kattang2 v memeras
i. Angka Arab Cetak Tebal (1, 2, 3, dst)
Angka Arab cetak tebal (1, 2, 3, dst) digunakan sebagai penanda
makna polisemi yang meliputi makna pertama, makna kedua,
makna ketiga, dst.
j. Kata ―lihat‖
Kata ―lihat‖ digunakan sebagai penanda rujuk silang pada lema
pokok atau sublema yang sudah diberi penjelasan.
Contoh:
paleppang lihat palapa
k. Tanda Elipsis (…)
Tanda elipsis (…) digunakan sebagai penanda konfiks yang
bentuk dasarnya tidak dimunculkan.
Contoh:
xxix
makka-…-ang
ak-…-ang
Catatan:
Kamus ini tidak memberikan penjelasan atas sejarah (asal-usul)
suatu lema. Misalnya, lema serapan selleng yang berasal dari
bahasa Arab, yaitu Islam, dicantumkan tanda A (Arab), kecuali
beberapa kata yang berasal dari dialek berbahasa Bugis.
VI. Singkatan-Singkatan Lain
akr akronim
dll dan lain-lain
dng dengan
dp daripada
dr dari
dsb dan sebagainya
dst dan seterusnya
ki kiasan
kp kependekan
kpd kepada
krn karena
msl misalnya
pb peribahasa
pd pada
sbg sebagai
sing singkatan
spt seperti
thd terhadap
tsb tersebut
tt tentang
yg yang
xxx
a abe
1
A - a
a 1 n huruf ke-22 pd abjad
Bugis
2 p atau engkaga
sirina -- dek? apakah ia
mempunyai malu atau
tidak?
3 p konfiks pembentuk
nomina pd kata dasar yg
bermakna 'tempat' jika
disertai akhiran ng, eng,
dan reng abbola -- saya
membangun rumah
abala /abala/ n bahaya
madecengi rininiri
riasengnge -- lebih baik
dihindari yang disebut
bahaya
akkabala v berbahaya ia
larie iarega na ~ ri
mandorok-e tawana
pabbaddilik-e yang lari
atau yang berbahaya
bagi mandor menjadi
tugas tentara
abba n ayah; bapak
abbeang /abbéang/ v buang;
campak; lempar iko
mupuji laddek -- doik
kamu suka sekali
menghilangkan uang
mabbeang v membuang;
mencampak; melempar
makkabbeang v
membuangkan;
menghilangkan;
mencampakkan
akkabbeangeng n
pembuangan
abbekkak /abbêkkak/ v
membuka tanah baru
melalui proses dr awal (tt
sawah, ladang, dsb)
makkabbekkak v memulai
untuk membuka lahan
kebun atau sawah
abbiang lihat abbeang
abbu, mabbu a giat (bekerja
keras); berkuat
mangabbu v menggiatkan
abbueng /abbuéng/ n sekitar
waktu pagi, saat matahari
naik sepenggal (biasanya
pd pukul sembilan)
abbukkajung n sasaran
pelampiasan atas
perlakuan yg
sewenang-wenang
abbussuang v empas; banting
abe /abé/ a mirip La Baso na
-- ambokna La Baso
mirip dng ayahnya
abea adawa
2
abea /abéa/ n otot pd tangan yg
terletak di antara ibu jari
dng telunjuk, biasa dipijit
untuk menyadarkan
orang yg pingsan
abeo /abéo/ n kiri
kabeo-beo a kidal paggolok
ero ~ pemain bola itu
kidal
abiasang n kebiasaan;
kelaziman
abiasa-biasang a biasa
abuak adv boleh
acca, macca a pintar pedek
esso pedek ~ makin hari
ia makin pintar
accek lihat accok
accok n tiang pancang sbg
tanda atau batas
accori-coring n perca
acarak n acar
acikaci n mata kaki
acok pron kata ganti untuk
anak laki-laki Bugis
malopponi -- anak
laki-lakinya sudah besar
acu-acu n undur-undur
ada n ada; ucapan; pesan
makkeda v berkata;
berbicara; berucap
nakkeda-kedai v mengatai;
mengumpat; memarahi
poadai v yg mengatakannya
engkato ~ makkeda
depa ada juga yg
mengatakannya belum
poada-adai v yg
mengisahkan ianae ~
adorakanna Adang
sibawa Hawa inilah yg
mengisahkan
kedurhakaan Adam dan
Hawa
poadang v memberi tahu
nakkeda Puang Alla
Taala niga ~ ko? maka
berkatalah Allah Swt,
siapakah yang memberi
tahu kamu?
ripoada v dikatakan aga
palek ada maelo ~
perkataan apa yg akan
dikatakan kepada guru
kita?
ripoadang v diberitahukan ~
ri ambokna ada
makkuka ia
diberitahukan oleh
ayahnya perkara yang
demikian
ada tongeng perkataan yg
benar
belo-belo ada hiasan kata
ulu ada kesepakatan
Adang1 n Adam
adang2 v adang laoko mu -- ri
wirinna lalengnge kamu
pergi menghadangnya di
pinggir jalan
adapi n nama jenis padi
adase /adasé/ n adas
adawa v bimbing; tuntun
addacingeng adelek
3
addacingeng /addacingêng/ n
pelajaran; latihan iaro
pura laloe denrek seddi
-- peristiwa yg sudah
terjadi merupakan satu
pelajaran
addampeng /addampêng/ n
maaf
addampengi v maafkanlah
dia ~ salanna anakta
maafkanlah kesalahan
anak Anda
maddampeng v memaafkan
paddampengi n pengampun
taddampengakkak p
maafkan saya
addek /addêk/ v mengkelan
naddek v termengkelan
addeneng /addénéng/ n tangga
addeneng monri tangga
belakang untuk jalan
alternatif bagi penghuni
rumah panggung Bugis
addeneng pangolo tangga
depan untuk jalan utama
masuk ke dalam rumah
panggung Bugis
addeneng rakkeang tangga
loteng
addonrang n lesung yg terbuat
dr kayu besar, diberi
lubang berbentuk segi
empat panjang, berfungsi
sbg tempat menumbuk
padi
adek1 /adêk/ n 1 adat; tradisi
2 budaya
makkiadek n tata cara adat;
beradat
adek abiasang adat
kebiasaan
adek allopi-loping tata
normatif pelayaran
adek assituruseng aturan yg
disepakati dan mengikat
semua pihak
adek maraja aturan yg
berlaku bagi raja
adek puraonro aturan yg
ditetapkan oleh raja dan
warga demi
keadilan, kebaikan, dan
kemaslahatan bersama;
adat kekal
adek riatutui aturan yg
dijaga dan dipelihara
agar tidak dilanggar
adek wari aturan yg
mengatur segala hukum
istana
adek2 /adêk/ adab; budi
pekerti; akhlak
makkessing -- na tau
ero akhlak orang itu baik
adek3 /adêk/ adas
adelek /adélék/ a adil iaro
arungnge temmaka --
na raja itu sangat tidak
adil
adidi mangajarak
4
adidi n lidi --e narapang
akkibbureng bola
tulang daun nyiur
diibaratkan ramuan
rumah
ading n pohon yg tingginya
10--20 meter, buahnya
bulat kecil rasanya
masam, berbiji tunggal,
mirip buah lengkeng
aga1 1 pron apa -- naseng apa
yang dikatakan?
2 p kata seru untuk
menyatakan keheranan
atau ketidaksetujuan thd
sesuatu
aga2 p lantas -- nariaseng
mutoro La Beru lalu ia
dinamai La Beru
aga-aga n barang; harta benda;
semua perkakas rumah
dek gaga --nna dia tidak
mempunyai harta benda
agama n agama Selleng --ku
Islam agama saya
maggama v beragama
makessing tu taue ~
orang itu baik bila taat
beragama
agarak n agar-agar meloi
mebbu beppa -- dia
mau membuat kue
agar-agar
agati1 p seumpama
agati2 n agatis (jenis kayu)
aggasa-gasang n pemakaian
(tt alat) atau bekerja (tt
manusia) yg dilakukan
terus-menerus
Ahak n Ahad esso --
najajiang hari Ahad dia
dilahirkan
aheli a ahli narekko tania --
na jamai jamangnge
masolanni tu jika bukan
ahlinya yang
mengerjakan maka
rusaklah
aherak /ahérak/ n akhirat ri --
pi matu muduppai
amalakmu amalmu akan
kau dapatkan di akhirat
ai p ah
aja n barat mangolo ri --
bolakukk rumahku
menghadap ke barat
ajak adv jangan -- mualai
narekko tania anummu
jangan kamu mengambil
bila bukan milikmu
ajak lalo jangan sekali-sekali
ajak bare jangan sampai
terjadi
ajak sana jangan dahulu
ajarak v ajar -- anrimmu
matematika ajar adikmu
matematika
mangajarak v mengajar ~
agakik ri sikolae?
Anda mengajar apa di
sekolah?
pangajarak tarakka
5
pangajarak n nasihat
angkalingakik ~na
tomatoae dengarlah
nasihat orang tua
aje /ajé/ n kaki -- abeona
kaki kirinya
ajeng /ajêng/ a damai; rukun
siajeng v berdamai
mappasiajeng v
mendamaikan kapala
kampong-e ~i tau
sisalae kepala kampung
mendamaikan orang
yang berselisih
aji n haji
ajja adv pura-pura u --i
matinroe saya -- tidur
ajjaleng /ajjalêng/ n ajal
nadapini -- na ajalnya
sudah tiba
ajje /ajjé/ a pura-pura
(bohong)
ajjemporeng /ajjêmporêng/ n
bantal
ajjulukeng /ajjulukêng/ n alat
penangkap ikan yg
berupa jala, dipasang dng
dua batang bambu kurang
lebih 150 cm, digunakan
dng cara ditancap pd
tanah
ajoa n alat untuk merangkai
dua ekor binatang
(kerbau atau sapi) yg
digunakan untuk menarik
bajak atau garu di sawah
aju n kayu
ajuara beringin
aju anging lamtoro
aju cenning kasia
aju colok trembesi
aju ipi merbau
aju jati jati
aju kajung pepohonan
aju lekke kayu yg berupa
balok panjang pd rumah
yg letaknya paling atas,
menjadi tulang
punggung rumah,
berfungsi sbg tempat
melekatnya kerangka
atap
aju panasa kayu nangka
aju tabu kayu lapuk
aju tek aur
ajudang n ajudan kapiteng
Ali mancaji -- kapten Ali
menjadi ajudan
aka n gebang
akek /akêk/ n akik --
paramata ciccinna batu
akik permata cincinnya
akka1 v angkat; ambil; bawa ri
--i mancaji lurah ia
diangkat menjadi lurah
makka v mengangkat
nasuroak ~i kaderae
dia menyuruh saya
mengangkat kursi
tarakka v pergi ~ ni lopinna
to Gowae pergilah
perahu orang Gowa
akka sompek alaiya
6
akka sompek mengangkat
layar ke puncak tiang
agung secara sempurna
akka2 n kurap
akkareng v berkurap
akkaleng /akkalêng/ n akal ia
tennarapi --
makkukwae hal
demikian itu tidak masuk
akal
akkasang n kibas ajak mu --
gemmekmu jangan
kamu kibas rambutmu
akkatta n kehendak; niat;
tujuan puang Alla taala
dek napujiwi --
makkukwae Tuhan
Allah taala tidak
menyukai niat seperti itu
akkonynyong n kobokan
alako --! ambillah
kobokan!
akkua a nyata
akkuanna n kenyataan
ako pron engkau (biasanya
digunakan sbg bentuk
terikat di depan kata lain)
ala1 p ataupun -- woroane --
makkunrai baik wanita
maupun pria
ala2 adv saja; pun; juga
ala3 adv semasih belum;
sebelum -- laomu
sebelum engkau
berangkat
ala4 n ambil; raih
alang n ambilan
aralangi n pengambilan
kaala-ala a suka mengambil
yg bukan miliknya ajak
mu~ jangan mengambil
yang bukan hakmu
mala v mengambil
ala bagang hasil tangkapan
ikan dng menggunakan
bagan
ala banrong hasil tangkapan
ikan dng menggunakan
banrong
ala bubu hasil tangkapan
ikan dng
menggunakan bubu
ala ele hasil tangkapan ikan
pd waktu pagi
ala jala hasil tangkapan ikan
dng menggunakan jala
ala meng hasil tangkapan
ikan dng menggunakan
kail
ala pana hasil tangkapan
ikan dng menggunakan
panah
ala pukak hasil tangkapan
ikan dng menggunakan
pukat
ala rintak hasil tangkapan
ikan dengan
menggunakan ladung
aladi n keladi; talas matek
sedding rianre -- terasa
gatal makan keladi ini
alaiya n lihat laiya
alakkang makkalek
7
alakkang lihat lakkang
alamak n alamat kegai --na?
di mana alamatnya?
alamek lihat lamek
alameng /alamêng/ n pedang;
lamang; cenangkas
alang n alam Puanna sininna
--e Tuhan seluruh alam
alangeng /alangêng/ n pesta
besar
alapung n kura-kura -- sibawa
jonga kura-kura dengan
rusa
alarak n kerapian
alasang n alasan
alati n cacing tanah maega --
makkalebbong ri tanae
banyak cacing yg
membuat lubang di
dalam tanah
alau n timur
alaweng /alawêng/ v seleweng
alawengeng n
penyelewengan
malaweng v kasus seksualitas
berdampak hukum;
menyeleweng
alawi v menghindarkan
madecengisa pada ki ~
aleta lebih baik kita
menghindarkan diri dari
bahaya
ale /alé/ n diri; tubuh; badan
mapeddi maneng --ku
seluruh tubuhku sakit
ale-ale adv sendirian ~ku
monro ku bolae saya
tinggal di rumah sendiri
alekuk pron saya; aku
alena pron 1 dia; ia
2 n beliau
alena maneng mereka
aletak pron anda
lanroale n sekujur tubuh
pakkaleng n badan; bodi;
postur tubuh
watakkale n tubuh tau ero
maloppo sennak ~na
orang itu memiliki
tubuh yang besar
alebbireng /alêbbirêng/ n
harta pusaka yg
dimuliakan
kemuliaan
alebbong /alêbbong/ n lubang
kaeko -- muattaroi
warowo galilah lubang
untuk tempat sampah
makkalebbong v berlubang
atutukik jokka ~i
lalengnge hati-hatilah
kamu berjalan karena
jalanannya berlubang
alek /alêk/ n hutan bolana ri
tengngana --e rumahnya
di tengah hutan
alek-kalek n hutan kecil;
hutan-hutan
makkalek v dipenuhi
tumbuhan
alek karaja alitta
8
alek karaja hutan lebat
tamak-i ri alek
karajae dia memasuki
hutan lebat
alekkek1 lihat lekkek
mapeddik --ku pura
mabbingkung
punggungku sakit setelah
mencangkul
alekkek2 /alêkkêk/ n bubungan
masolangi -- bolakuk
bagian puncak rumahku
rusak
alekku lihat likku
alempang /alêmpang/ n beduk
alengnga lihat lengnga
alenrong /alénrong/ n belut
alepak /alépak/ n ketiak ajak
muakka limammu
matanre collong
ammengngi -- jangan
angkat tanganmu terlalu
tinggi, nanti ketekmu
kelihatan
makkalepak v mengepit
alepo /alépo/ n sampil
alepuk /alépuk/ n alif maui --
dettopa naisseng bacai
kata alif pun belum dia
tahu cara membacanya
makkalepuk v belajar
mengaji dng mengeja
aksara Arab nappa ~
baru belajar mengaji
alhamdulillah p alhamdulillah
ali, mali v hanyut ittei aju ~
ero pungutlah kayu yang
hanyut itu
ali-ali a gelisah; gusar; rewel
mangali-ali v menggelisahi;
mengganggu
alicci lihat aliri
alicoppeng lihat coppeng
alidi lihat adidi
alili n lilit; belit; berputar
mallili v melilit; membelit
sikalili v saling belit
paliliri v meliliti;
mengelilingi
alilik v putar
alimasang1 n utuh; lengkap
alimasang2 n bentuk atap
rumah yg pd bagian
ujung bawahnya
bersusun
alimpungeng /alimpungêng/ v
tertimbun -- bolana
nasabak maruttung
bulue rumahnya
tertimbun karena gunung
longsor
alingangang v tercengang --ka
mitaki mabbaju bodo
saya tercengang melihat
kamu memakai baju bodo
alinge n tumbuhan rempah
alinro n lihat linro
alissa lihat licca
alitta1 n lintah; pacet
alitta mangaluk arajang
9
alitta2 n nama kampung di
Pinrang
alittaro n tumbuhan sejenis
pinang, tapi batang dan
buahnya besar
alitutu a waspada; hati-hati
Alla1 n Allah -- mani missengi
sininna anu ripogauk-e
hanya Allah yang
mengetahui setiap
perbuatan
Alla Taala Allah subhanahu
wa Taala
alla2 p kata seru untuk
menyatakan kekecewaan
allak v injak; pijak; jejak
makkallak v menginjak
allepa /allépa/ v memoles
badan perahu dng lepa
allepessang /allêpêssang/ v
melepas iga -- manuk
bolong? siapa yang
melepas ayam hitam?
malleppessang v melepaskan
ajak ~ anak manumu
jangan melepaskan anak
ayammu
alliri n tiang rumah panggung
Bugis siaga --nna
bolamu? berapa tiang
rumahmu?
alliri pakka tiang yg
berfungsi sbg
penyangga tangga
depan (sbg simbol
laki-laki yg mencari
nafkah dng melewati
tangga dan pintu depan)
alo n enggang
alojo lihat alitta
alosi n pinang
alosu n alat tari Bissu
menyerupai ular naga,
terbuat dr bambu yg
berisi butiran-butiran,
dibalut dng anyaman
daun lontar, kepalanya
terbuat dr kayu berbentuk
kepala ayam dan ekor
terbuat dr anyaman daun
lontar
alu n alu
alua n asinan
aluk n perlakuan
alukaluk n berbagai macam
perlakuan (persyaratan)
yg harus dipenuhi
dalam upacara
pernikahan dsb
mangaluk v melakukan
perlakuan
mangaluk arajang
memberikan perlakuan
rituan pd pusaka
alukaluki amek
10
alukaluki v
menghalang-halangi
narekko dek u --
jama-jamatta purani
kijama seandainya saya
tidak
menghalang-halangi,
sudah pasti rampung
pekerjaanmu
aluminiung n aliuminium
pamuttu ero riebbu
pole -- perkakas itu
terbuat dari aluminium
alung n bunyi-bunyian yg
dipasang pd leher
binatang
aluppang n kelumpang; kepuh
aluru1 n tulang kering
aluru2 n potongan batang
(dahan) yg lurus, yg biasa
dibuat pagar
alusuk a halus; lembut
anaddara ero -- muni
ulina gadis itu sangat
halus kulitnya
ama lihat amang 3
amalak n amal
makkamalak v beramal
amanak n amanat; pesan;
wejangan mabbere --
tomatoae ri anakna
orang tua memberi
wejangan kepada
anaknya
amang1 a aman --ni
wanuakkuk negeriku
sudah aman
amang2 lihat ama
amang3 n ayah
siamang n seayah
sina siamang n seibu seayah
amarang v sampai; hingga
nakkero gaukna --
siminggu acaranya
hingga seminggu
amaure /amauré/ n paman
--ku pole Jakarta
pamanku dari Jakarta
ambak v hantam; pukul
pakkamba n pemungkas;
andalan makessing ~na
La Baco senajata
pemungkas la Baco
sangat bagus
ambalak n ambal; permadani
elliangak -- ri Mekka
belikan saya ambal di
Mekah
ambang n alat yg membantu
sapparengngi -- carikan
alat bantu
ambok n ayah; bapak
marambok p bersama dng
ayah La Baco ~ jokka
Jakarta La Baco
dengan ayahnya pergi
ke Jakarta
amek ampa
11
amek /amêk/ a cocok; rukun;
damai -- ni La Supu
sibawa benena La Supu
sudah rukun dengan
istrinya
ameng /amêng/ n kuman;
bakteri maega --na
banyak kumannya
amengkameng
/amêngkamêng/ v
mengira; tidak
disangka-sangka dek u--i
pole saya tidak mengira
dia datang
amesang /amêsang/ v tidak
ada yg campur iyami --
pada pole sompullolona
maneng yang datang
hanya keluarganya
semua tidak ada yang
campur
amesangeng num seluruh;
semua -- riengkalinga
basa Ugi ri Bone na ri
Wajo semua daerah di
Bone dan Wajo
terdengar menggunakan
bahasa Bugis
aming p amin narekko purani
baca doangnge bacani
-- setelah selesai berdoa,
bacalah amin
amingi v mengamini ~ baca
doangna imangnge
mengamini doa imam
amma adv bila terjadi
jakkeng amma
jangan-jangan
ammai adv nanti; kelak
mapesse -- limammu
nakenna ladang nanti
tanganmu perih kena
cabai
ammemengeng
/ammémêngêng/ n
tempat asal lisu --
kembali ke tempat asal
ammeneng /amménéng/ n
tempat menangkap ikan
dng menggunakan kail
ammeng /ammêng/ n orang
awam
ammessureng
/ammésurêng/ v selalu
dipakai terus menerus,
tanpa rasa beban untuk
memeliharanya dng baik
ammi lihat amma
ammo lihat amma
ammosi n perayaan pesta khas
Bugis yg dilakukan di
atas perahu, diikukan
ketika air laut pasang dan
saat matahari akan naik,
dilanjutkan dng
membaca doa
ammuru-muru a pelampiasan
rasa kesal, marah, dsb La
Baso -- La Baso kecewa
amo v bekerja keras --ak
maggalung saya bekerja
keras bertani
ampa pakkampi
12
ampa n gerak
tarampa-ampa v
bergerak-gerak
ampae /ampaé/ v raih; ambil;
gapai -- waju ero raih
baju itu
ampang n kelopak boro --
matanna nakenna aju
kelopak matanya
bengkak kena kayu
ampako n tembakau maega --
ri Soppeng banyak
tembakau di Soppeng
ampalu lihat alili
amparang v larang --i
anak-anak-e ajak
namarukka larang
anak-anak itu jangan
ribut
amparangeng n larangan ia
purae ~ ko makkedai e
ajak lalo muanrei yang
sudah menjadi larangan
saya janganlah engkau
memakannya
mamparang,
makkamparang v
melarang; menegur
ajak ~i anrinmu
maccule-cule jangan
melarang adikmu
bermain-main
ampe /ampé/ n sifat --na uwae
onrong mariawae
napuji sifat air itu selalu
mencari tempat yang
rendah
ampe-ampe n perangai
makessing ~ anakmu
perangai anakmu baik
mangampe v bersifat
pangampe n kelakuan; watak
ampek1 /ampêk/ adv hampir --
araweng hampir sore
ampek1 /ampêk/ v serang
(biasanya oleh ayam
beranak atau tawon)
na--kak manuk
mattelloe saya diserang
oleh ayam bertelur itu
ampekale /ampékalé/ n waris
ampellek /ampêllêk/ n amplas
alangi -- La Baco
ambilkan amplas si Baco
ampelo /ampélo/ n seludang
ampellok /ampêllok/ n amplop
ampellung /ampêllung/ n
empedu alai -- na bale
ero buanglah empedu
ikan itu
ampi v pelihara (tt hewan)
tedong tenri -- kerbau
yang tidak digembalakan
mampi ampung
13
mampi v menggembalakan
matekkoi polle ~
tedong dia kelelahan
setelah
menggembalakan
kerbau
pakkampi n gembala;
penggembala ~ bembe
jamanna pekerjaannya
penggembala kambing
ampi kale harta (sawah dsb)
yg disimpan sbg
jaminan selama hidup
amping n kambing hutan
bembe amping n anoa
ampiri n kemiri engka pong --
ri olo bolana ada pohon
kemiri di depan
rumahnya
ampo v tabur; menabur --
aseku dek natuo benih
yang saya tabur tidak
tumbuh
mampo, mangampo v
menaburkan;
menghamburkan
paggalungnge ~ ase ri
galungnge petani
menaburkan benih di
sawah
amporo1 n telur busuk krn
gagal menetas maega
itello --na dia memiliki
banyak telur busuk
amporo2 n kiasan yg ditujukan
kpd orang yg tidak
berkualitas
ampoti n pembungkus
buah-buahan yg masih di
pohon, terbuat dr bambu
yg dipotong tipis dan
memanjang, dianyam spt
keranjang, berfungsi
untuk melindungi dr
serangan hewan (tupai
dsb)
ampoti manuk n petarangan;
sangkar
ampu1 n pucuk daun kelapa yg
dipasang membentang,
berfungsi sbg penghalang
binatang (rusa dsb)
ampu2 n batang terdalam pd
pohon pisang
ampu3 v mengamuk -- tedong
riasseoreng ero kerbau
yang diikat itu
mengamuk
ampuk n kulit lambung pd
sapi, kerbau, dsb
ampulajeng /ampulajêng/ n
pohon yg daun dan
batangnya dimanfaatkan
sbg obat, banyak tumbuh
di tepi sungai
ampung1 n bagian tengah pd
batang kayu (spt pd
pohon ubi kayu dsb)
ampung anak sipue
14
ampung2 n daging batang
bambu pd bagian bawah
sembilu
ampung3 n ampun
ampupalapa n ketombe
atinuluko massampo
barak teddengngi --mu
rajinlah memakai sampo
agar ketombemu hilang
amputu n tumit mapeddi
--kuk tumitku sakit
mamputui v menahan dng
tumit matekko bitikuk
~ lelah betisku menahan
dia dengan kaki
amu p biar; walaupun --
jokkai dekna siruntuk
walaupun dia pergi, tidak
juga ketemu
amulu n balok penyangga
lantai papan pd rengkiang
atau pd lantai papan
rumah panggung
amutta n rumput teki
anabburane n kata sapaan
saudara kandung
perempuan kpd saudara
kandung laki-laki
anaddara n kata sapaan
saudara kandung
laki-laki kpd saudara
kandung perempuan
anak n anak
anak-anak n anak-anak
maega -- maccule-cule
banyak anak-anak
bermain-main
maranak bersama anak ~
jokka Jakarta dia pergi
Jakarta bersama
anaknya
maranang n sekeluarga ~i
jokka bottingnge
mereka sekeluarga pergi
ke pesta perkawinan
memmanak v melahirkan
purani ~ benemu?
apakah istrimu sudah
melahirkan?
pemmanak v membantu
melahirkan sanroe ~ ka
dukun yang membantu
saya melahirkan
anak beccing instrumen tari
Bissu yg terbuat dr dua
batang logam dan tali
pengikat
anak bule anak yg lahir di
luar nikah tanpa
diketahui siapa
(keberadaan) ayahnya
anak burane putra
anak cerak anak bangsawan
anak manrapi putra mahkota
anak makkunrai putri
anak pattola anak gahara;
anak pewaris
anak riboko dayang-dayang
anak rielli anculung
15
anak rielli anak angkat yg
diperoleh melalui
proses jual beli
anak sipue anak bangsawan
darah campuran
anak tikno anak bangsawan
murni
anak walida anak yg cacat
fisik tapi dianggap
memiliki kekuatan
supranatural
anakarung anak bangsawan
anakarung masala anak yg
lahir dr perkawinan dng
istri yg bukan
bangsawan
anakarung matasa anak yg
lahir dr bapak dan ibu
bangsawan murni
anakarung matoa anak
bangsawan murni yg
menjadi pewaris tahta
anakkoda n nakhoda iga --na
lopie? siapa nakhoda di
perahu?
anammi n tumbuhan yg
dianyam untuk dijadikan
tempat rokok, kopiah,
dsb
anang n pemimpin rakyat yg
berasal dr komunitas
setempat
anango n walang sangit
anao n enau
anaure /anauré/ n keponakan
anaserek /anasérék/ n anasir
gerombolangnge
salaseddinna --
solangiwi negarata
gerombolan pengacau
merupakan salah satu
unsur yang merusak
negara kita
anca lihat á¶Ÿampu
ancale /ancalé/ n belalang
siaga -- mutikkeng?
berapa belalang yang kau
tangkap?
ance /ancé/ n 1 wadah
sesembahan yg terbuat dr
anyaman daun kelapa
dsb, diisi ketan empat
warna (putih, hitam,
merah, kuning),
ditambahkan ayam utuh
yg sudah dimasak,
digantung di pohon atau
semak-semak
2 tempat ritual atau
keramat
anci v maki
manganci-anci v
memaki-maki
ancu v lipat ota ri -- sirih yang
dilipat
ancu-ancu v ganggu
mangancu-ancu v
mengganggu untuk
memancing kemarahan
ancuari n kaki seribu
anculung n julung
ancuruk anggorok
16
ancuruk v lihat buruk --i ero
cammingnge cermin itu
hancur
Andik n gelar kehormatan bagi
anak keturunan
bangsawan Bugis asenna
-- Pangngerang
Pettarani namanya Andi
Pangeran Pettarani
makkandik-andik v
menyapa (memanggil)
dng sebutan adik
narekko naobbiak ~i
riak bila saya dipanggil,
ia menyapa dng sebutan
adik
ane /ané/ n rayap aju ero
nanre -- kayu itu
dimakan rayap
anekkua /anékkua/ v
terkirakan dekna ~
rennunna tidak
terkirakan betapa
gembiranya
anemerek /anémérék/ n
pemborong; kontraktor
engkana muruntuk --?
kamu sudah menemukan
kontraktor?
aneng /anêng/ v anyam
tapperee deppa ri-- tikar
belum dianyam
anengang n benda yg
dianyam untuk
membabat rumpon
manganeng, maraneng v
menganyam indokkuk
~ baku ibuku
menganyam keranjang
paraneng n penganyam
lebbie mancaji ~
daripada dek gaga
jama-jamammu lebih
baik menjadi
penganyam daripada
pekerjaanmu tidak ada
anging n angin; hawa; udara
marakko wajummu
nairing -- bajumu kering
ditiup angin
maranging v berangin laoko
riolo bolae ~ pergilah di
depan rumah
berangin-angin
anging ri attang mata angin
yg bertiup dr arah
selatan
anging laddek musim yg
sangat baik untuk
menangkap ikan
terbang
anging passorong angin yg
bertiup lebih kuat dan
biasanya menyebabkan
perahu bertiup lebih laju
laso anging putting beliung;
angin topan wanua ero
nakennai laso ~ daerah
itu dilanda angin putting
beliung
anggorok n anggur
angirang sipanrasa
17
angirang n masa kehamilan yg
disertai dng perubahan
sikap dan kepekaan thd
pengaruh-pengaruh
perubahan hormon si ibu
angka1 v sampai; mencapai;
batas -- kega belana?
sampai di mana jauhnya?
angka2 n bilangan
angkaga v tengkar
mangkaga v bertengkar ajak
mu -- sibawa bali
bolamu kamu jangan
bertengkar dengan
tetanggamu
angkangulung n bantal
angkangulung leppang
bantal kepala
sitola angkangulung suami
yg menikahi saudara
kandung almarhumah
istrinya
angkauk n wilayah kekuasaan;
kerajaan
angkaukeng n wilayah
kekuasaan seorang raja
mangkauk v raja bertahta
(gelar raja Bone)
angkek /angkêk/ n 1 harga
dekgaga --na
warang-warang
masolangnge
barang-barang yang
rusak tidak ada nilainya
2 nilai tasengi malebbi
na makurang --na
taksirannya dikira lebih
ternyata kurang
3 modal ri engkana
doik na -- adanya uang
dan modal
angkona n kemampuan (tt
harta, kekuasaan, dsb)
mangkona v berkemampuan
angkong n waria
ango n suara; bunyi
ango-ango n suara-suara;
bunyi-bunyi
angsana n angsana
anjong1 1 hiasan rumah yg
berada pd ujung atap
magello -- rita pole
mabela hiasan rumah yg
berada pada ujung atap
kelihatan dari jauh
2 anjung perahu
anjong2 n anju
manganjong v menganju
anra n pikat
anganra n pikatan
manganra v memikat
anrasa n derita
anrasa-rasang n penderitaan
manrasa v menderita
manrasa-rasa v sangat
menderita
sianrasa-rasang a
sependeritaan
sipanrasa sianynyuk-anynyuk
18
sipanrasa v sama-sama
menderita
anre /anré/ v makan aga mu
--? kamu makan apa?
anre-anre n camilan;
makanan ringan
anre-kanre n makanan
mebbui ~ indokkukk
ibuku membuat
makanan
anreang, pakkanreang n
lauk-pauk aga ~ mu?
apa lauk-paukmu?
anreng n tempat makanan
makessing ~mu tempat
makananmu bagus
manre v makan ~ elekik
nappa jokka majjama
makan pagi lalu pergi
kerja
mappanre v memberi
makan; menjamu
mappanre aliri ritual
memberikan sesajen
kpd tiang rumah yg baru
saja didirikan agar
kehidupan penghuni
rumah baru tersebut
hidup berkecukupan
mappanre tau mangideng
upacara memberikan
makan kpd ibu hamil
dng usia kandungan
3--4 bulan dng
menghidangkan
kue-kue Bugis
anrek /anrêk/ n kelemayar
anrigi v gigit
anrini p ke sana ke mari
rilellung ri -- ia dikejar
ke sana ke mari
anrik n adik --ku malasa
adikku sakit
anrote /anroté/ v menggigit
sambil
mengempas-empaskan
sianrote v saling
mengempaskan
antarak v antar --i anrimmu
jokka massikola antar
adikmu pergi sekolah
pangantarak n pengantar
maega ~na jamaah
hajie banyak orang yg
mengantar jemaah haji
antaung n tawon
antene /anténné/ n antena
masolangi -- televisiku
antena televisiku rusak
anting lihat giwa-giwa
anu n anu
anure lihat anaure
anynyarang n kuda -- lai ero
magatti lari kuda jantan
itu kuat larinya
anynyuk v ejek
sianynyuk-anynyuk v
berejek-ejekan -- La
Baco sibawa We Becce
La Bacco dan We Becce
saling mengejek
anyuma appasiama
19
anyuma v pelihara dng baik --i
anakmu pelihara dengan
baik anakmu
apak p sebab; karena
apagi p apalagi
apalak v hafal --i
aseng-asenna puang
Ala taala hafalkan
nama-nama Allah
apang n apam
ape /apé/ n ampas (buah padi
yg hampa)
apek1 /apêk/ n kapas
apek2 /apêk/ v amati; cermati
mangapek v mengamati;
mencermati
api n api mate apinna
komporoke api kompor
padam
api-api n korek api jokkako
melli ~ kamu pergi beli
korek api
makkapi-api v bermain api
anakmu napoji ~
anakmu suka bermain
api
laso api a membubung (tt
nyala api) mangu
nasabak -- barang itu
hangus akibat nyala api
yang membubung
api-api n kunang-kunang
apiung n opium
apo p kata yg dipakai untuk
menekankan kata di
depannya, bermakna
'ternyata' atau 'rupanya'
apotek /apoték/ n apotek
appajelloreng
/appajêllorêng/ n tempat
menggelincirkan
appak n dasar ruang perahu yg
dialasi dng tikar tempat
mengisi barang
appalang n pahala iatu gauk
mupogauk maega --na
pekerjaan yang engkau
lakukan itu banyak
pahalanya
appang1 n 1 penggaris
2 perkakas pelayaran yg
dibuat dr lilitan sabut
kelapa
mangappang v menggaris
appang2 n keluarga besar
berdasarkan kekerabatan
atau garis keturunan
appang-appang n dinding
rendah ± 40 cm pd bagian
bawah pintu masuk
rumah sbg batas pemisah
antara beranda dng
rumah induk pd rumah
panggung
appasau1 a lazim
appasau2 n alat untuk
mengukus; kukusan
appasiama araweng
20
appasiama v menyatukan atau
menghubungkan batin
pemilik dng perahunya
appe /appé/ n alas; lapik;
pelapis
mappe v mengalas; melapik
riapperi v dialas
appeang /appéang/ v lempar;
buang --i batuna
panasae ri tanae bara
tuwoi lempar biji nangka
ke tanah agar tumbuh
makkappeang v melempar;
membuang ajak ~
arowo riolo bolae
jangan membuang
sampah di depan rumah
apping n sampingan; sambilan
iaro ujamae jamang --
yang saya kerjakan itu
adalah pekerjaan
sampingan
apping-apping v bimbing;
asuh
mangapping-apping v
membimbing;
mengasuh
appo adv dabak (secara
tiba-tiba)
takkappo v tiba; berkumpul
takkappo-appo v
berdatangan secara
tunggang-langgang
appui p kata seru untuk
menyatakan heran,
kecewa, jijik, dan takut
apu, mapu v pecah -- ni ero
cammingnge cermin itu
sudah retak
mapu-mapui v
memecah-mecahkan
apung n kabut; embun maega
-- ri bulue banyak embun
di gunung
Araba n Rabu
araing v menjadi-jadi pedek --
semakin menjadi-jadi
arajang n benda pusaka
kerajaan Bugis yg
diyakini memiliki
kekuatan supranatural
Arak n Arab
arak-arakeng
/arak-arakêng/ v dikutuk;
disalahkan
arang n tahi lalat
Arapa n Arafah
Arasek /arasêk/ n Arasy
araso n gelagah
arateng /aratêng/ n penguat
rumah (pengikat tiang pd
bagian tengah dan
penyangga lantai pd
rumah panggung) yg
terdiri atas balok pipih yg
membujur
arattiga n pelita; petunjuk
araukeng /araukêng/ n
penyakit yg disebabkan
oleh angin jahat
arawa n tangga
araweng /arawéng/ n sore
araweng-araweng arumpigi
21
araweng-araweng a agak
sore
are /aré/ n are (satuan ukuran
luas)
are-are1 /aré-aré/ a
meremehkan
(menganggap rendah)
are-are2 /aré-aré/ a sia-siakan
area /aréa/ n ilalang
arek1 /arék/ 1 adv mungkin
2 pron apa
arekga pron apakah sikaju --
dua? satu apakah dua?
arekgi pron entah sita --
paemeng ato dek entah
kita berjumpa kembali
atau tidak
arek2 /arêk/ n perkakas tenun
yg berupa tali atau
benang, berfungsi untuk
mengangkat
benang-benang pd
tenunan
arek, marek3 /arêk/ a erat --i
tuluna
angngessongngengnge!
eratkanlah tali
jemurannya!
arella /arêlla/ n rangrang
ittello arella n telur rangrang
areloji /arêloji/ n arloji
ari1 n tunas
ari2 n lapisan tipis
ari3 /ari:/ n kurap
aripik n anyam
ari-aripik v
anyam-menganyam
ariseng /arisêng/ n panau
ariwik n tali gantungan
aro1 pron itu -- engkani pole
pabbaluk kajue itu
penjual sayur sudah
datang
mangaro v menuju ~
tegakik? menuju ke
mana?
aro2 n dada mapeddi --ku
dadaku sakit
aro3 n merang
arompang n tulang kering
aropek1 lihat karopek
aropek, makaropek2
/aropêk/ a kasar ~
ajunna kadera ero kayu
kursi itu kasar
arua num delapan
aruk v amuk
mangaruk v mengamuk
mangaruk-aruk v
beramuk-amuk
aruku n topeng
arumpigi n alat tari Bissu yg
terbua

